Sistem Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Jepang

Banyak dari kita yang mendefinisikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai anak cacat. Padahal konsep ABK sangat jauh berbeda dari istilah anak cacat. Seorang anak bisa dikatakan berkebutuhan khusus apabila ia memiliki 3 ketentuan berikut.

Pertama, anak tersebut kurang dari atau lebih dari anak-anak pada umumnya. Kedua, anak tersebut sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Ketiga, kesulitan tersebut membuatnya membutuhkan pelayanan khusus.

Dan di bawah ini, akan dibahas bagaimana sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang. Mengapa Jepang? Karena Jepang terkenal dengan sistem pendidikannya yang berkualitas.

Kun Anta Center selalu siap dan hadir memberikan stimulasi pertumbuhan & perkembangan kepada Anak Berkebutuhan Khusus. 



Macam-Macam ABK dan Sistem Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Jepang


Sebelum mengenal bagaimana sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang, ada baiknya kita mengenal macam-macam ABK.

Pertama, ada disabilitas intelektual atau retardasi mental dimana seorang anak memiliki IQ di bawah 70. Kedua, disabilitas penglihatan dimana sulit melihat. Ketiga, disabilitas pendengaran dimana anak sulit mendengar. Keempat, disabilitas tubuh dimana anak memiliki kondisi fisik berbeda dari anak-anak pada umumnya sehingga sulit beraktivitas. Kelima, gangguan emosi & tingkah laku.

InsyaAllah akan dibuka Kun Anta Learning Center

Keenam, autis, dimana anak seolah memiliki dunia sendiri dan berperilaku berbeda dari anak-anak pada umumnya. Ketujuh, anak mengalami gangguan pusat perhatian. Kedelapan, anak mengalami gangguan belajar akibat gangguan pada otak. Kesembilan, anak memiliki kemampuan akademis maupun non akademis melebihi anak-anak lainnya.

Adapun 9 kategori di atas memiliki perbedaan masalah dan tentunya perbedaan pelayanan dalam mengatasinya.

Sistem Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Jepang
Di Jepang, sekolah berkebutuhan khusus memulai aktivitasnya pada Bulan April. Mengapa 1 April? Karena 1 April adalah masa dimana bunga-bunga cherry bermekaran. Indahnya fenomena alam ini dipercaya dapat membangkitkan semangat untuk belajar dan mengajar.  Di Jepang sendiri, sekolah berkebutuhan khusus terbagi menjadi beberapa macam.

Sekolah Khusus
Jenis sekolah ini menargetkan jumlah anak berkebutuhan khusus sebanyak 0.71%, dimana ada 3 anak berkebutuhan khusus > 1 jenis di setiap kelas. Sementara anak berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan 1 jenis saja, jumlahnya 6 orang per kelas. Sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang, khususnya di sekolah khusus menggunakan kurikulum tuna grahita dan tuna netra. Namun khusus tuna grahita, ada tambahan aktivitas kemandirian.

Sekolah Reguler namun ada Sekolah Khusus
Di sekolah reguler yang ada sekolah khususnya, jumlah anak berkebutuhan khusus ditargetkan sebanyak 2.18%. Setiap kelas memiliki ABK sebanyak 3-6 orang.

Sekolah Reguler
Jumlah siswa di sekolah reguler yakni sebanyak 26-30 orang per kelas dimana jumlah paling banyak adalah 40 siswa. Meski termasuk sekolah reguler, di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus dimana aktivitas pembelajarannya melibatkan 2 guru. Satu guru berperan sebagai guru utama sementara guru lainnya berperan sebagai guru pendamping. Sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang, khususnya di sekolah ini yakni dengan mengadakan pelajaran mengajar dan kelompok kecil. Ada juga saat dimana guru hanya mendorong anak berkebutuhan khusus untuk mandiri menghadapi setiap hal yang dialaminya setiap hari.

Di Jepang, para calon guru di sekolah berkebutuhan khusus harus melalui ujian khusus. Bahkan ada komite khusus yang menangani anak berkebutuhan khusus dan sekolah berkebutuhan khusus. Hampir setiap bulan komite pendidikan ini mengunjungi sekolah berkebutuhan khusus untuk meninjau bagaimana kualitas guru pengajar dan fasilitas yang harus diterima anak berkebutuhan khusus.

Dari paparan 3 macam sekolah di atas, bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan antara sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang dengan di Indonesia. Di Jepang, semua anak, baik normal maupun berkebutuhan khusus berhak untuk belajar di sekolah swasta maupun negeri apapun kondisinya. Tidak seperti di Indonesia, dimana anak berkebutuhan khusus harus belajar di SLB (Sekolah Luar Biasa). Sistem pendidikan Jepang ini membuat anak-anak berkebutuhan khusus memiliki rasa percaya diri di tengah keterbatasannya.

Tidak salah memang menyebut sistem pendidikan Jepang merupakan salah satu terbaik di dunia. Lihat saja bagaimana pemerintah sangat memperhatikan pendidikan masyarakatnya tanpa pandang bulu, baik itu masyarakat normal maupun anak berkebutuhan khusus. Tidak hanya menjadikan masyarakatnya pandai dari sisi akademis, Jepang juga berhasil menjadikan masyarakatnya pandai bersikap. Mereka diajarkan bagaimana untuk ramah pada alam, menghargai orang lain, menghargai pekerjaan orang lain dan pekerjaan mereka sendiri, serta menjalin hubungan yang baik antar siswa dan guru.

Hal-hal seperti inilah yang seharusnya dapat ditiru dari Jepang. Semoga hal-hal positif dari sistem pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jepang dapat dijalankan di negara berkembang salah satunya Indonesia.



Cooming Soon......

KUN ANTA LEARNING CENTER
CP. 0852 121212 85 ( DANI. S) 

Comments

Popular posts from this blog

Terapi Artikulasi Dengan Metode Motokinestetik

KMS ( Kartu Menuju Sehat ) Sebuah Langkah Awal Memantau Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Terapi Bahasa dengan Metode Drill