Fakta Mengejutkan!!! Inilah Autisme.....
Autisme merupakan kelainan saraf yang mulai muncul saat kanak-kanak. Kelainan ini bertahan seumur hidup. Anak dengan kelainan saraf ini selalu kesusahan dalam mengekspresikan apa yang dia rasakan baik melalui kata-kata, ekspresi, maupun gestur tubuh. Hal tersebut yang menyebabkan mereka kesulitan berinteraksi sosial dan berkomunikasi. Pengidap autis juga lebih sensitif dibandingkan anak normal. Mereka mudah terganggu dengan suara, pemandangan, bau, atau sentuhan meskipun hal tersebut normal.
Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Klasifikasi, dan Terapi Autisme
CDC (Centers for Disease Control and Prevention) melaporkan bahwa jumlah pengidap autis mencapai 1% dari populasi dunia. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada laki-laki. Apa saja yang perlu Anda ketahui tentang autisme?
Gejala
Orang tua sebaiknya terus mengikuti perkembangan anaknya. Gejala autis dapat bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Gejala pertama dapat muncul saat usia 1 tahun. Anak pengidap autis akan lebih senang menyendiri dan bersikap pasif. Mereka tidak bisa fokus baik pada 1 suara atau 1 obyek. Misalnya, saat Anda mengajak bicara atau menunjukkan suatu benda, pengidap autis akan cenderung fokus dengan hal lain yang tidak berhubungan dengan Anda.
Pengekspresian diri sangat sulit dilakukan sehingga umumnya mereka akan berteriak atau menangis. Selain itu, mereka akan susah beradaptasi dan mengikuti peraturan yang ada. Mereka cenderung berperilaku sesuai keinginannya. Hal ini dapat mengganggu proses interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya.
Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah perkembangan komunikasi terlambat sehingga susah untuk diajak berkomunikasi dengan orang lain. Beberapa penderita suka untuk melakukan kegiatan berulang-ulang. Apabila kegiatan tersebut tidak bisa dilakukan, mereka akan cenderung marah.
Penyebab
Pencetus kelainan saraf ini masih belum diketahui pasti, tetapi dokter mengatakan faktor genetik sangat berperan. Dokter menemukan defek atau cacat gen yang mengatur pertumbuhan otak pada anak pengidap autis. Hal tersebut mengakibatkan sel-sel di otak tidak bisa berhubungan satu sama lain. Berdasarkan penelitan tersebut juga ditemukan bahwa pertumbuhan beberapa area otak anak normal dan pengidap autisme terlihat berbeda setelah dilakukan pencitraan. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perkembangan gen tetapi mekanisme pastinya masih belum diketahui secara spesifik. Cara orang tua membesarkan anak dan vaksinasi tidak termasuk pencetus kelainan saraf ini.
Faktor risiko
Faktor risiko merupakan faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan suatu individu menderita sebuah penyakit. Anak lak-laki cenderung lebih berisiko mengalami autisme. Berdasarkan CDC, laki-laki 5 kali lebih mudah terserang dibandingkan perempuan. Bayi yang lahir prematur sebelum 26 minggu memiliki risiko tinggi terkena autis. Adanya kelainan genetik seperti sklerosis tuberous atau sindrom fragile X juga lebih rentan terkena autis. Apabila dalam suatu keluarga ditemukan anak lain yang mengalami kondisi autis, maka kemungkinan besar anak akan menderita kelainan saraf ini. Usia orang tua disinyalir memiliki hubungan dengan munculnya defek gen tetapi dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut.
Klasifikasi
Penderita autisme dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu persepsi, reaksi, dan timbul kemudian. Autis persepsi muncul sejak bayi lahir dan gejala berupa ketidakmampuan mengekspresikan diri akan nampak lebih awal. Anak juga akan bersikap acuh dengan lingkungan sekitarnya. Berbeda dengan autis reaksi. Klasifikasi autis kedua ini muncul karena paparan faktor lingkungan seperti trauma atau sakit. Gejala seperti melakukan gerakan berulang akan muncul pada usia lebih dari 6 tahun atau sebelum anak masuk tahap berpikir logis. Autis timbul kemudian muncul lebih lama dibandingkan 2 klasifikasi sebelumnya sehingga susah untuk memberikan pendidikan atau pelatihan untuk mengubah dan mengontrol perilakunya.
Terapi nonobat
Autisme tidak bisa disembuhkan. Orang tua hanya dapat memberikan terapi intervensi untuk membantu memperbaiki perkembangan anak. Terapi yang dapat dilakukan adalah terapi okupasi untuk meningkatkan kemampuan beraktifitas sesuai usia, terapi wicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, serta terapi perilaku untuk mengembangkan respon anak terhadap lingkungan, terapi sensori integrasi untuk meningkatkan awareness anak terhdap stimulus sensori dan lain-lain.
Autisme tidak bisa didiagnosis sendiri tanpa bantuan dokter. Apabila orang tua merasa anaknya memiliki gejala seperti di atas, maka sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Hal tersebut dilakukan agar anak dites lebih lanjut dan mendapatkan terapi yang sesuai.
Comments
Post a Comment