Idiot.... Apa itu?
Panduan buat orangtua dalam menyikapi anak yang dirasa kurang dalam hal ingatan, sering bosan, terkesan malas-malasan, pelupa, kurang rapi, telat mikir dan seterusnya.....
Mental retardasi atau gangguan intelektual merupakan gangguan perkembangan otak yang menyebabkan kecerdasan seseorang berada di bawah rata-rata. Gangguan ini dapat dilihat dari nilai IQ (Intellectual Quotation) dan perilaku saat belajar. Proses yang harus dilakukan untuk membantu anak dengan keterbelakangan mental membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan dukungan yang besar agar anak dapat hidup normal.
Penyebab, Gejala, Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi Mental Retardasi
Anak yang mengalami gangguan intelektual akan terhambat dalam proses belajarnya. Orang tua perlu tahu informasi penting terkait gangguan intelektual agar dapat mendeteksi anaknya lebih dini atau mencegah anak mengidap gangguan intelektual.
Penyebab
Penyebab pasti mental retardasi masih belum diketahui. Diduga faktor utama pencetus kelainan ini adalah gangguan pada otak baik berupa kelainan gen, penyakit, atau trauma. Anak dengan kelainan gen seperti pengidap hipotiroidisme atau Down syndrome dapat mengalami gangguan intelektual.
Penyakit yang dapat menyebabkan gangguan intelektual adalah penyakit yang menyerang otak seperti tumor otak atau infeksi otak. Anak yang mengalami gangguan intelektual juga dapat disebabkan karena kondisi ibu saat hamil atau melahirkan. Apabila saat hamil ibu malnutrisi, menggunakan obat, atau mengalami tekanan darah tinggi atau infeksi, maka bayi yang lahir dapat mengalami gangguan intelektual. Kondisi bayi yang sudah lahir tetapi lahir dalam kondisi prematur atau kekurangan oksigen juga dapat menghambat perkembangan otak bayi tersebut.
Trauma berupa cedera otak dapat merusak beberapa bagian otak. Hal tersebut dapat mengakibatkan sel otak mati dan individu tersebut mengalami gangguan intelektual. Sehingga setiap orang harus berhati-hati dan melindungi kepala khususnya saat berolahraga dan berlalu lintas.
Gejala
Tiap pasien mental retardasi dapat menunjukkan gejala yang berbeda satu sama lain. Hal tersebut bergantung tingkat keparahan gangguan intelektual yang dialami. Gejala yang muncul umumnya berhubungan dengan aspek kognitif. Anak dengan gangguan intelektual akan terlihat sulit bicara karena tidak bisa mengikuti komunikasi orang lain atau tidak memahami kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. Anak juga akan sulit memahami hal-hal penting dan dasar dalam kegiatan, contohnya makan, berpakaian, atau menggunakan kamar mandi. Anak memiliki penalaran yang buruk sehingga sulit menyelesaikan suatu masalah sederhana dan tidak memahami dampak dari tindakan yang diambil. Gejala lainnya adalah daya ingat yang buruk.
Klasifikasi berdasarkan IQ
IQ menjadi nilai patokan bagi anak penderita mental retardasi. Nilai IQ dibagi menjadi 4 klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan gangguan intelektual, yaitu ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Gangguan intelektual tergolong ringan apabila nilai IQ masuk rentang 50-69. Klasifikasi sedang memiliki rentang nilai IQ 35-49 sedangkan klasifikasi berat memiliki rentang 20-34. Anak akan dianggap memiliki gangguan intelektual sangat berat (idiot) jika nilai IQ di bawah 20. Penderita klasifikasi sangat berat akan menunjukkan gejala lain yang dapat dilihat secara fisik seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan gerak tubuh, dan kejang.
Diagnosa
Jika orang tua merasa anaknya memiliki gejala seperti uraian sebelumnya, maka segera bawa ke dokter agar mendapatkan diagnosis yang sesuai. Dokter akan melakukan observasi dengan mewawancarai anak dan orang tua. Beberapa tes intelektual dan penyesuaian diri akan dilakukan. Selain itu, dokter juga akan melakukan tes fisik seperti tes urine, tes darah, elektroensefalografi atau pemeriksaan aktivitas listrik otak, dan pemindaian otak seperti MRI atau CT scan. Hasil tersebut dapat membantu dokter menegakkan diagnosis.
Terapi yang dilakukan
Anak yang mengidap mental retardasi dan keluarganya akan mendapatkan 2 terapi utama, yaitu Individualized Education Program (IEP) dan Individualized Family Service Plan (IFSP). Proses yang dilakukan dalam terapi individu bertujuan membantu anak mengatas gejala yang dialami, seperti sulit bicara. Sedangkan pada terapi keluarga dilakukan untuk memberikan arahan dan bimbingan pada anggota keluarga khususnya orang tua untuk terus mendampingi anak dalam beraktivitas sehari-hari.
Untuk mencegah anak mengidap mental retardasi, orang tua khususnya ibu harus selalu berhati-hati ketika masa kehamilan. Konsumsi vitamin sesuai kebutuhan, pemeriksaan rutin, vaksinasi, serta menghindari rokok dan alkohol adalah hal yang harus dilakukan agar risiko dapat diminimalkan.

Comments
Post a Comment